Penyelenggaraan haji dan umrah Indonesia mulai tahun 2026 mengalami beberapa perubahan! Pertama adanya perubahan kewenangan penyelenggaraan yang beralih dari Kementerian Agama ke Kementerian Hajin dan Umrah. Kedua adanya penetapan Embarkasi Haji Yogyakarta dengan konsep hotel haji menjadi pertama di Indonesia. Ketiga legalnya Umroh Mandiri dan pembahasan penggunaan Bandara Internasional Taif sebagai alternatif kedatangan di Arab Saudi. Berbagai perubahan tersebut menjadikan dinamika industri haji-umrah di Indonesia.

Embarkasi Haji Yogyakarta melalui  Bandara Internasional Yogyakarta (YIA)

Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) resmi memiliki embarkasi haji sendiri, yang akan mulai beroperasi pada musim haji tahun 2026 (1447 H). Keberangkatan jemaah haji akan dilakukan melalui Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) di Kulon Progo. Penetapan Embarkasi Haji Yogyakarta tertuang dalam Keputusan Menteri Agama Nomor 11 Tahun 2025, tertanggal 22 Oktober 2025, bertepatan Hari Santri, sebagai “kado istimewa” bagi santri DIY.  Embarkasi ini di Indonesia menjadi urutan ke-9 atau huruf “i” dalam abjad sebuah simbolis “istimewa” yang identik dengan DIY.

Embarkasi Haji Yogyakarta memiliki beberapa perbedaan utama dibandingkan dengan embarkasi haji lainnya di Indonesia, terutama dalam hal fasilitas dan operasionalnya. Konsep Akomodasi Berbasis Hotel merupakan fitur yang paling menonjol. Berbeda dengan embarkasi lain yang umumnya menggunakan gedung asrama haji yang dikelola pemerintah (seperti Asrama Haji Pondok Gede di Jakarta atau Asrama Haji Donohudan di Solo), embarkasi DIY ini akan menggunakan hotel-hotel di sekitar YIA sebagai tempat transit jemaah. Jaraknya yang hanya sekitar lima menit dari bandara membuat proses pergeseran jemaah lebih cepat dan nyaman.

 Bandara Internasional Taif Sebagai Alternatif

Kajian Pemerintah Indonesia untuk mengoptimalkan penggunaan Bandara Taif (TIF) sebagai pintu masuk dan keluar alternatif bagi jemaah haji reguler dan umrah di masa mendatang tentu juga menarik untuk menjadi perhatian. Bandara Internasional Taif memiliki jarak yang lebih dekat ke Makkah dibandingkan dengan Bandara Internasional King Abdulaziz Jeddah (King Abdulaziz International Airport) (JED) berdasarkan jarak tempuh darat. Bandara Taif juga dekat dengan miqat Qarnul Manazil (sekitar 20 km), sehingga jemaah dapat dengan mudah memulai ibadah haji atau umrah setelah mendarat.

Masjid dan Perpustakaan Ibn Abbas
Masjid dan Perpustakaan Ibn Abbas di Taif

Implikasi Tantangan bagi Penyelenggara dan Jamaah

Berbagai perubahan yang ada tersebut tentu memiliki implikasi tersendiri baik kepada Penyelenggara Perjalanan Umrah (PPIU) dan Haji demikian juga bagi jemaahnya. Bagi jemaah umrah mandiri yang kini legal sesuai UU No. 14/2025, mengintegrasikan Bandara Taif salam itinerary tentu sangat menarik. Kota Taif yang selama ini sudah cukup banyak menjadi salah satu destinasi wisata saat Haji dan Umroh dapat semakin dikemas lebih menarik.

Kesempatan menjadikan Bandara Taif sebagai hub saat kedatangan atau kepulangan umrah menjadi terbuka, khususnya bagi jemaah Mandiri. Setelah umrah di Mekkah, langsung ke Taif pagi hari untuk wisata sehari, lalu sore/malam terbang ke Turki untuk wisata di hari berikutnya bisa menjadi pilihan menarik, terutama bagi jamaah umrah yang ingin menggabungkan elemen spiritual, alam, dan eksplorasi budaya dalam satu perjalanan. 

Ihram.id: Mitra Baru di Era Baru

Kami di Ihram.id berkomitmen mendukung jamaah dan PPIU dengan informasi transparan. Di era inovasi ini, memahami dan beradaptasi dengan perubahan adalah kunci. Semoga perubahan ini membawa berkah efisiensi dan kemaslahatan bagi umat Muslim Indonesia.


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *