Di suatu malam yang lengang di Makkah, bus-bus kecil tampak berjejer di depan Masjid Aisyah Tan’im. Lampu-lampu kendaraan menyala, para sopir memanggil calon penumpang, dan jemaah Indonesia berduyun-duyun turun membawa niat yang sama: melakukan umrah sunnah. Tak sedikit di antara mereka yang baru saja menyelesaikan umrah wajib beberapa jam sebelumnya.

Pemandangan tersebut telah menjadi fenomena rutin, terutama pada musim umrah. Bagi sebagian jemaah Indonesia, satu kali umrah rasanya tidak cukup. Keinginan memperbanyak amal membuat banyak dari mereka mengambil miqat tambahan untuk melaksanakan umrah kedua, ketiga, bahkan ada yang keempat kali dalam satu perjalanan. Namun mengapa fenomena ini berkembang begitu pesat? Apa yang melatarbelakanginya? Dan bagaimana sebenarnya pandangan ulama?

Semangat Beribadah yang Tak Terbendung

Semangat jemaah Indonesia untuk memperbanyak ibadah menjadi kunci utama tren ini. Di Tanah Suci, banyak jemaah merasakan desakan batin untuk memaksimalkan waktu ibadah mereka.

“Ini mungkin kesempatan saya yang terakhir ke Makkah,” kata seorang jemaah. “Kalau bisa umrah dua atau tiga kali, kenapa tidak?” Dorongan spiritual seperti ini membuat umrah sunnah menjadi pilihan yang dianggap wajar untuk “memaksimalkan ibadah” selama di Tanah Suci.

Salah satu motif lain yang sering terdengar adalah niat untuk melakukan badal umrah, yakni menunaikan umrah atas nama orang lain, biasanya orang tua yang sudah wafat atau tidak mampu secara fisik.

Bagi banyak jemaah, keberadaan di Masjidil Haram membawa perasaan haru dan syukur yang sulit dijelaskan. Mereka ingin memastikan setiap detik menjadi amal yang tidak terlewatkan. Umrah sunnah pun menjadi pilihan populer.

Peran Travel: Umrah Berulang Jadi Bagian Itinerary

Fenomena ini tak lepas dari paket perjalanan yang ditawarkan penyelenggara umrah (PPIU). Banyak PPIU memasukkan “Umrah Tan’im” ke dalam itinerary sebagai nilai tambah. Biasanya, paket mencakup: City tour Makkah, Ziarah sekitar Jabal Rahmah atau Jabal Nur, Lalu singgah ke Masjid Aisyah untuk miqat tambahan.

miqatayesha
Jemaah melaksanakan shalat sunah di Masjid Aisyah

Bagi jemaah, paket ini terasa seperti bonus ibadah. Bagi penyelenggara, ini adalah layanan yang paling mudah difasilitasi. Dulu, perjalanan ke Tan’im memakan waktu dan tenaga. Kini, dengan transportasi daring, layanan shuttle, dan akses jalan yang baik, perjalanan bolak-balik menjadi sangat mudah.

Jarak Tan’im ke Masjidil Haram hanya sekitar 7 kilometer. Dalam 30–40 menit, jemaah sudah bisa kembali ke tanah haram dan memulai thawaf. Kemudahan inilah yang membuat banyak jemaah merasa umrah sunnah sangat terjangkau, baik waktu maupun tenaga.

Sebagai alternatif untuk mengurangi kepadatan di Tan’im, jemaah juga bisa memilih Masjid Ji’ranah yang berlokasi sekitar 20-25 km timur laut Makkah. Masjid ini memiliki nilai historis tinggi karena Rasulullah SAW pernah berihram di sini setelah Fathu Makkah. Meskipun jaraknya lebih jauh, Ji’ranah menawarkan pengalaman spiritual yang lebih tenang dan sering dipilih untuk umrah sunnah ketiga atau lebih, terutama oleh rombongan yang ingin menghindari keramaian.

Pandangan Ulama: Boleh, Tapi Jangan Berlebihan

Mayoritas ulama mazhab Syafi’i memang membolehkan umrah dilakukan berkali-kali. Pandangan ini menjadi pegangan kuat bagi umat Islam di Indonesia. Namun demikian, umrah adalah ibadah yang melelahkan fisik. Banyak jemaah lansia yang terdorong melakukan umrah sunnah tetapi akhirnya kelelahan, bahkan jatuh sakit.

Beberapa ulama Saudi bahkan mengimbau agar jemaah tidak memaksakan diri melakukan umrah berulang kecuali jika benar-benar mampu dan tidak mengganggu ibadah lain. “Amal yang paling dicintai Allah adalah yang konsisten dan tidak memberatkan,” demikian pesan para ulama.

Namun para ulama mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara semangat dan pemahaman ibadah. Di Tanah Suci, ada banyak amalan yang dianjurkan: Thawaf sunnah, Shalat sunnah di Masjidil Haram, Membaca Al-Qur’an, dan masih banyak ibadah lain yang dapat dilakukan sebagai alternatif ibadah yang tidak kalah besar pahalanya.

Ibadah yang Bijak, Ibadah yang Berkualitas

Umrah sunnah adalah ibadah mulia yang dibolehkan. Namun ibadah yang bijak adalah ibadah yang dilakukan dengan pemahaman, tidak memberatkan diri, serta memprioritaskan amalan yang paling utama. Di tengah semangat jemaah Indonesia yang selalu tinggi, memahami prioritas ibadah akan membantu menjadikan perjalanan umrah lebih khusyuk, tidak memberatkan, dan sesuai tuntunan para ulama. Bagi mereka yang rindu Makkah dan Madinah, menikmati waktu di hadapan Ka’bah dengan doa, dzikir, dan syukur bisa jadi lebih menjadi memori yang hinggap lama daripada menghitung berapa kali sudah melakukan umrah.


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *