Jutaan jemaah haji kini memasuki fase paling krusial dalam rangkaian ibadah haji: hari Tarwiyah. Pada momen ini, para tamu Allah bersiap meninggalkan Makkah menuju Mina sebagai langkah awal menuju wukuf di Arafah, puncak dari seluruh rangkaian ibadah haji. Di saat yang sama, umat Islam di berbagai penjuru dunia menyambut hari-hari mulia Dzulhijjah dengan memperbanyak amal saleh, termasuk menjalankan puasa Tarwiyah dan Arafah.

Hari Tarwiyah jatuh pada 8 Dzulhijjah, yang dalam kalender Armuzna menjadi titik keberangkatan jemaah dari Makkah menuju Mina. Nama “Tarwiyah” sendiri merujuk pada tradisi jemaah haji di masa lampau yang mengisi persediaan air Zamzam sebagai bekal perjalanan menuju Arafah dan Mina, termasuk untuk kebutuhan hewan tunggangan mereka. 

Hari Tarwiyah juga menjadi momen istimewa bagi mayoritas jemaah Indonesia yang berhaji dengan cara tamattu’. Setelah sebelumnya menyelesaikan ibadah umrah dan bertahallul, pada 8 Dzulhijjah inilah mereka kembali mengenakan pakaian ihram. Prosesnya diawali dengan mandi ihram, memotong kuku, dan membersihkan rambut di apartemen atau hotel. Setelah itu jemaah berangkat menuju Mina, dan niat ihram haji diucapkan dalam perjalanan — “Labaik Allahumma Hajjan” — menandai dimulainya kembali ikatan ihram beserta seluruh larangannya. Sejak saat itu jemaah memperbanyak talbiyah sepanjang perjalanan menuju Mina. Berbeda dengan jemaah yang berhaji ifrad atau qiran, yang sudah berihram sejak miqat di awal kedatangan dan tidak pernah melepasnya.

transitmekah
Kakiyah merupakan salah satu kawasan yang sering digunakan sebagai lokasi transit sebelum melaksanakan Tarwiyah.

Hari Tarwiyah adalah pembuka dari rangkaian Armuzna — singkatan dari Arafah, Muzdalifah, dan Mina — yang merupakan inti puncak ibadah haji. Alurnya adalah sebagai berikut:

  • Malam 8 Dzulhijjah — Jemaah tiba di Mina dan mabit (bermalam) di sana. Hukumnya sunnah, namun dicontohkan langsung oleh Rasulullah SAW dan para sahabat. Shalat lima waktu dilaksanakan pada waktunya masing-masing dengan cara diqashar: Zhuhur 2 rakaat, Ashar 2 rakaat, Maghrib 3 rakaat, Isya 2 rakaat, dan Subuh 2 rakaat.
  • Siang 9 Dzulhijjah — Setelah Subuh dan matahari terbit, jemaah bertolak dari Mina menuju Arafah untuk wukuf, yang merupakan rukun haji paling utama. Tanpa wukuf, haji tidak sah.
  • Malam 9 Dzulhijjah — Setelah wukuf, jemaah bergerak ke Muzdalifah untuk mabit. Hukumnya wajib. Di sini jemaah juga mengumpulkan kerikil untuk lontar jumrah.
  • 10 Dzulhijjah (Idul Adha) — Jemaah kembali ke Mina untuk lontar jumrah Aqabah, dilanjutkan tahallul, tawaf ifadah, dan sa’i.
  • 11–13 Dzulhijjah (Hari Tasyrik) — Jemaah kembali mabit di Mina dan melaksanakan lontar tiga jumrah (Ula, Wusta, dan Aqabah) setiap harinya.

Selama di Mina pada hari Tarwiyah, shalat Zhuhur, Ashar, Maghrib, Isya, dan Subuh dilaksanakan pada waktunya masing-masing dengan cara diqashar tanpa dijamak, disertai perbanyak zikir pagi dan petang. Bagi jemaah haji, setiap perpindahan dalam rangkaian Armuzna ini bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan hati menuju puncak penghambaan kepada Allah SWT. 

Perlu dicatat bahwa Tarwiyah bukanlah rukun maupun wajib haji, sehingga jika tidak bisa dilaksanakan tidak akan mengurangi keabsahan haji. Namun sejauh dapat diamalkan, para ulama sangat menganjurkannya karena Rasulullah SAW dan para sahabat pun melaksanakannya. 

Sementara itu, bagi umat Islam yang tidak sedang berhaji, puasa Tarwiyah dan Arafah sangat dianjurkan agar mereka dapat turut merasakan nikmat yang sedang dirasakan oleh para jemaah haji di Tanah Suci. Puasa Arafah pada 9 Dzulhijjah memiliki keutamaan luar biasa: Rasulullah SAW menjelaskan bahwa puasa ini mampu menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Adapun puasa Tarwiyah pada 8 Dzulhijjah dianjurkan menurut Imam Ibnu Hajar al-Haitami sebagai bentuk kehati-hatian agar tidak terlewat keutamaan hari Arafah. 

Berdasarkan kalender Hijriah 1447 H, puasa Tarwiyah dilaksanakan pada Senin, 25 Mei 2026, sedangkan puasa Arafah pada Selasa, 26 Mei 2026. Penetapan resmi tanggal 1 Dzulhijjah di Indonesia biasanya diumumkan melalui sidang isbat pemerintah, sehingga umat Islam dianjurkan menunggu pengumuman tersebut. 

Bagi umat Islam, hari-hari menjelang Iduladha merupakan kesempatan istimewa yang tidak boleh disia-siakan. Di Tanah Suci, jutaan jemaah mempersiapkan diri menuju puncak ibadah. Di berbagai negara, kaum Muslimin menyambutnya dengan puasa, zikir, takbir, dan doa. Semua berpadu dalam satu semangat yang sama: mendekatkan diri kepada Allah SWT dan meraih keberkahan sepuluh hari terbaik dalam setahun.


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *